Jalan Raya Wajah Indonesia

Oleh Ramelan

23 May 2016 - 04:15:07

5 menit

​Tertabraknya JPO diatas jalan tol oleh truk trailer pengangkut crane, sungguh kejadian yang disayangkan. Tetapi kejdian ini hanya membuktikan carut marutnya pengelolaan jalan raya kita. Polda Mertro Jaya sekarang ini serdang melancarkan operasi patuh.  Berbagai operasi dan razia lalu lintas telah sering dijalankan. Menimbulkan kesan seolah-olah hanya pada waktu razia dan operasi saja polisi menegakkan peraturan. Walaupun berbagai peraturan dan perundangan sudah ada, tetapi pelanggaran terus saja terjadi. Marka jalan dan rambu lalu lintas sudah hampir tidak dipatuhi, termasuk pelanggaran yang dilakukan oleh penegak hukum sendiri. Di beberapa simpang jalan di Jakarta sudah diterapkan YBJ – Yellow Box Junction, tetapi apa gunanya kalau pelanggaran terus dibiarkan. Sering muncul pertanyaan mengapa harus dipasang marka dan rambu lalulintas kalau pelanggaran terus dibiarkan, dan tidak mendapat teguran atau hukuman. Anehnya lagi dibeberapa lokasi tertulis peringatan bahwa daerah tersebut merupakan daerah tertib lalu-lintas menurut undang-undang. Apakah maksudnya di lokasi lain boleh tidak tertib? Kepolisianpun hanya sibuk kalau sedang mengadakan razia atau operasi ketertiban. Ataupun kalau ada VVIP akan melintas.

Yang paling merisaukan adalah tidak dipatuhinya berbagai rambu jalan seperti larangan berhenti, larangan parkir, dan pembatasan kecepatan yang tidak pernah digubris. Kecepatan kendaraan didalam kota yang secara umum di dunia dibatasi 50 km/jam dan dipemukiman 30 km/jam, inipun tidak pernah dipatuhi. Apalagi pembatasan klecepatan tersebut diterapkan tanpa rambu lalu lintas, sehingga  menjadi daerah tanpa tuan. Kemungkinan polisi tidak mempunyai kemampuan untuk mengukur kecepatan kendaraan yang sedang melaju, terjadilah pembiaran. Beberapa kecelakaan yang merenggut nyawa di jalan bebas hambatan dan balap mobil mewah di dalam kota, terjadi karena overspeeding.

Angkutan umum

Pemerintah sekarang ini sedang bekerja keras membangun angkutan umum masal, yang sudah lama terbengkalai. Jalur kereta api dibangun bukan hanya di pulau Jawa, melinkan juga di Papua, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Angkutan umum masal perkotaan lainnya seperti MRT dan LRT pembangunannya terus digalakkan.

Kesemerawutan masih terus terjadi, malah terkesan seolah-olah dibiarkan.  Angkutan umum, bis dan angkot seenaknya menurunkan dan menaikkan penumpang di sepajang jalan. Sering disebut dengan terminal bayangan. Hal serupa dengan taksi yang mangkal di bahu jalan ataupun tempat terlarang. Berbagai tempat kosong di pinggir jalan dimanfaatkan menjadi pangkalan taksi, termasuk di depan pintu gerbang gedung DPR/MPR. Hampir tidak ada pangkalan taksi yang resmi. Upaya masyarakat dengan menyediakan angkutan taksi online, sepeda motor baik ojek pangkalan dan ojek online, selalu dibayang-bayangi pelarangan oleh pemerintah dan penolakan pengusaha taksi dan ojek pangkalan.

Di sisi lain peraturan tentang kelengkapan kendaraan dan pengendara hanya berlaku kalau ada razia atau operasi tertib. Warna lampu yang tidak standar (biru dan putih), klakson yang meniru klakson polisi, bumper yang dimodifikasi semuanya dibiarkan saja. Ketentuan batas umur untuk mengendarai kendaraan, khususnya sepeda motor, sepertinya sudah tidak ada lagi. Di jalan-jalan arteri sudah menjadi pemandangan biasa anak-anak mengendarai motor. Tanpa ada tidakan dari yang berwajib.

​Jalur khusus sepeda motor tidak ada artinya. Di simpang jalan dengan lampu lalu lintas, ratusan sepeda motor mendominasi deretan paling depan. Mereka seolah-olah akan mulai balapan. Sepeda motor dengan jalan melawan arus sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Pengaturan yang tegas bagi sepeda motor dan pengendaranya di jalan raya sudah sangat mendesak.

Banyak tempat, bagi kepolisian dan dinas perhubungan lebih mudah mengatur lalu lintas dengan menempatkan blok semen. Tempat berputar kendaraan atau u-turn lebih banyak diserahkan kepada polisi cepek atau Mat Ogah. Kemacetan kronis terus terjadi, tanpa solusi berarti, walaupun selalu diberitakan melalui TMC.

Manajemen profesional

Pengaruh global sudah merasuki hampir semua sendi kehidupan kita. Tidak terbatas pada pemanfaatan teknologi komputer dan komunikasi.  Manajemen dan ekspertis tenaga asing sudah merupakan bagian dari berbagai kegiatan di negara kita.

Di sektor industri, bukan saja perusahaan yang dimiliki asing, melainkan juga tenaga ahli, manajer serta pimpinan perusahaan banyak dilaksanakan oleh orang asing. Beberapa perusahaan nasionalpun telah memanfaatkan tenaga-tenaga profesional asing. Khusunya di industri keuangan dan perbankan. 

Dominasi asing ini semakin nyata di bidang perhotelan, melalui jaringan waralaba dan kontrak kerjasama. Manajemen hotel besar jaringan internasional, serta keberadaan profesional dan manajer asing bukan hanya terjadi di Jakarta, melainkan sudah memasuki kota besar dan sedang lainnya, terutama di daerah  tujuan wisata dan resort.

Pusat-pusat perbelanjaan atau mal jadi tempat yang paling mencolok dengan dominasi asing. Malahan di beberapa tempat bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya menjadi bahasa utamanya. Brand dan merek internasional menjadi kebanggaan mayoritas toko-toko yang berada di mal. Hal serupa terjadi pada supermarket, minimarket dan convinient store.

Tidak terkecuali gedung perkantoran dan apartemen, pengaruh asing ini sangat terasa. Dengan angkuhnya para pengembang terkemuka  membanggakan bahwa telah memanfaatkan konsultan asing dengan taraf internasional, dalam mengembangkan proyek propertinya.

Industri keuangan, hotel, mal dan perkantoran apakah mewakili wajah Indonesia? Jelas tidak!!!

Jadi dimana wajah Indonesia? 

​Walaupun semua kendaraan bermotor yang berada di jalan raya merupakan produk teknologi asing, tetapi pengaturan lalu lintas dan jalan raya  nampak jelas belum atau tidak tersentuh pengaruh asing. Kemungkinan besar masih murni Indonesia. Hasilnya kita lihat sendiri. Semerawut. Apakah kita tidak mampu?

Apakah juga dalam pengaturan lalulintas jalan raya diperlukan bantuan asing? 

​Kirta semua terkena imbas keadaan jalan raya kita. Bukan hanya bagi penduduk Indonesia, melainkan juga tamu-tamu manca negara yang berkunjung. Pemandangan pertama bagi tamu mancanegara keluar dari bandara dan memasuki kota., adalah keadaan lalu lintas. 

Apa memang bangsa ini tidak mampu mengelola lalu lintas di jalan raya?

Itukah wajah Indonesia?

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi





Artikel Lainnya