Masyarakat Multikultural

Oleh Ramelan

13 January 2015 - 07:42:16

4 menit

​Kalau kita berbicara mengenai masyarakat Indonesia yang multikultural ataupun majemuk, sering dilihat dari segi beragamnya suku bangsa yang ada di Tanah Air baik asli maupun pendatang, serta agama dan kepercayaan. Hal-hal itulah yang memberikan warna dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Mengacu apa yang terjadi di dalam masyarakat dunia, kita mengenal istilah-istilah global citizen dan netizen. Demikian juga istilah Generation XYZ. Yang sudah dipakai oleh para cendikiawan dalam menganalisis keadaan masyarakat.

​Saya berusaha keluar dari pakem pemikiran tersebut, dengan mengamati dan memperhatikan berbagai lapisan didalam masyarakat kita, yang didasarkan dan terbentuk oleh tingkat kemampuan ekonomi. 

Tidak dapat dipungkiri masyarakat kita terdiri dari berbagai lapisan, antara lain  lapisan hiper kaya, super kaya, kaya, menengah atas, menengah bawah, bawah, hampir miskin, dan miskin. Demikianlah rentang yang sangat lebar dari kehidupan di dalam masyarakat kita. Dan lapisan-lapisan ini telah membentuk nilai-nilai dalam kehidupan mereka masing-masing.

Di jalan raya, kita temui kendaraan bermotor hiper mewah seperti Ferrari, Lamborghini, Maserati, Roll Roys, Bentley dan lainnya. Sedangkan dalam golongan super mewah Porsche, Mercedes Benz S, Mobil sport berbagai merek.  Sampai akhirnya pada lapisan menengah bawah adalah sepeda motor. Angkutan Umum di jalan raya pun, mempunyai konsumen dari lapisan yang berbeda, taksi mewah dan khusus, taksi kelas umum, bajaj dan ojek. Ataupun angkutan umum masal yang mengikuti rute atau trayek tertentu, seperti bis umum, metro mini, dan angkot. Konsumen angkutan umum inipun menggambarkan lapisan masyarakat yang berbeda.

Sisi lain dari ragamnya lapisan masyarakat ini, bisa dilihat dari segi kuliner. Restoran hiper mewah, super mewah dan mewah sering berada didalam mall mewah dan hotel mewah, ataupun restoran khusus yang tersebar di daerah elit. Tetapi beberapa mall juga dihuni restoran kelas menengah atas. Melangkah kita keluar hotel dan mall, kita dapatkan tenda makanan memenuhi trotoar, ataupun penjaja makanan dalam gerobak, sepeda, pikulan atau gendongan. Tempat tersebut merupakan tempat makan lapisan menengah bawah dan bawah. Biasanya tidak jauh dari tempat-tempat itu kita dapatkan warung-warung kecil dengan khas makanan daerah seperti warung Tegal, masakan Padang, soto Lamongan, makanan Jawa Timur sampai makanan Manado. Keadaan di tempat hiburan lainnya mengrefleksikan yang serupa. 

Demikian juga gambarannya keadaan lingkungan pemukiman mulai hiper mewah sampai lingkungan kumuh di pinggir kali. Kita amati juga dengan ragam sekolah dan pelayanan kesehatan mulai Posyandu sampai rumah sakit di luar negeri.

Nilai-nilai

​Interaksi antara sesama warga di setiap lapisan berlangsung sangat intensif, dan membentuk rasa kebersamaan dan solidarisme yang kuat. Pada penghujungnya muncul nilai-nilai budaya di masing-masing lapisan tersebut. Nilai-nilai yang bebas dari perbedaan agama atau kepercayaan, juga bebas dari perbedaan suku atau golongan. Lingkungan terbentuk karena kesamaan kemampuan ekonomi, dalam menghadapi kehidupan. Tetapi menimbulkan jarak yang semakin lebar dengan lapisan lainnya. Kadang kala terjadi gesekan antara lapisan, yang bisa menimbulkan gangguan keharmonisan hidup sebagai satu bangsa. Solidarisme pengendara sepeda motor, contohnya membentuk kelompok yang sangat kuat. Di sisi lain terbentuk juga kumpulan pengendara motor gede, Porsche atau kendaraan mewah lainnya.

Bagi perusahaan yang menjalankan  program Corporate Social Responsibility atau CSR, selain memperhatikan lingkungan di luar perusahaan, perlu juga memperhatikan kedalam perusahaan sendiri, karena terbentuk dari lapisan masyarakat yang berbeda.  Berbagai gerakan amal banyak digerakkan oleh masyarakat.  Masih terbatas jumlahnya masyarakat hiper dan super kaya yang betul-betul mempunyai jiwa filantropi. 

Indonesia, negeri kita bersama, dengan kekayaan alam serta dukungan lapisan menengah bawah, bawah dan miskin, telah menjadikan sebagian kecil warganya  masuk  lapisan hiper dan super mewah. Hal ini perlu betul diresapi.

Marilah kita camkan bersama, bukan hanya di jalan raya, restoran dan pemukiman, melainkan siaran televisi dengan iklan kehidupan lapisan hiper dan super mewah, juga ditonton oleh masyarakat dari lapisan bawah, hampir miskin dan miskin diseluruh tanah air. Kita semua perlu mawas diri. 

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi





Artikel Lainnya